+6285338000050 +6282247117719 +62370-6173082 lombokclick@gmail.com
+6285338000050 +6282247117719 +62370-6173082 lombokclick@gmail.com

Category

Budaya dan Sejarah

Kalau kamu suka mengemil dan sedang jalan-jalan di Lombok, kamu perlu mencoba jajanan unik khas Lombok yang satu ini. Namanya Cerorot. Nama lain makanan ini kue mata bor, unik, ya? Ini karena bentuknya mirip mata bor.

Makanan yang bentuknya unik ini biasa dijumpai dan disunguhkan ketika kamu menghadiri acara pernikahan maupun syukuran, dan acara-acara adat yang lain di Lombok. Kamu yang suka ngemil, pasti suka dengan cerorot yang memiliki rasa manis. Cara memakannya pun unik. Kamu tidak usah membuka bungkus yang terbuat dari daun kelapa, akan tetapi kamu kamu cukup menggelindingkan cerorot di kedua telapak tanganmu.

Selain cerocot, kamu juga bisa mencoba jajanan khas Lombok yang lain yaitu tombek. Nama jajannya unik-unik, ya! Seperti cerorot, jajanan tombek juga memiliki rasa yang unik dan manis. Tombek ini memiliki bahan dasar yaitu tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah yang membuatnya memiliki perpaduan manis dari gula dan gurih dari parutan kelapa.

Kedua jajanan khas Lombok yang unik ini, meskipun sama rasanya manis, tetapi memiliki beberapa perbedaan. Dari mulai cara memakannya. Kalau cerorot sebelum memakannya kamu harus mengguling-ngulingkan di telapak tangan, sedangkan tombek cara makannya yaitu dengan membuka lipatan daun enau yang membungkusnya.

Perbedaan yang lain yaitu kamu akan lebih sering menemukan cerorot dibandingkan tombek. Karena jajanan cerorot ini lebih sering dihidangkan di acara-acara perayaan yang ceria, berbeda dengan tombek yang lebih sering dibuat oleh mayarakat Lombok untuk acara peletakan batu nisan.

Tombek memang memiliki aroma horor, tetapi sebenarnya tombek dalam acara peletakan batu nisan dimaksud atau bertujuan untuk memanjakan dan bentuk ungkapan terimakasih bagi kamu yang mau perziarah dan datang ketika peletakan batu nisan tersebut. Menghadiri acara peletakan batu nisan ini, kamu juga mendapati jajanan-jajanan lain sebagai pelengkap yaitu cerorot, wajik, banget, dan lain-lain. Jajanan tersebut hukumnya sunah. Sedangkan untuk tombek sepertinya harus atau lebih sering ada di acara tersebut.

Jajanan-jajanan khas Lombok seperti cerorot dan tombek ini mesti kamu coba dan mesti kamu mengambadikan momenmu ketika memakan jajanan unik ini. Selain di acara-acara tersebut, tenang kamu bisa menemui jajanan-jajanan khas Lombok di Jalan Ahmad Yani Perigi Gerung Selatan Gerung Lombok Barat NTB. Di tempat ini kamu juga bisa belajar cara pembuatannya, lho!

By Zahratul Wahdati

Tidak ada salahnya, jika kamu berlibur di Lombok kamu bisa mengunjungi Pura Lingsar Lombok. Pura ini akan menyajikan padamu keharmonisan umat beragama. Hal itu karena pura ini menjadi simbol kerukunan antar umat beragama yaitu Hindu-Bali dan Lombok dengan Islam Sasak.

Pura ini dibangung sekitar 1714 oleh seorang pedatang dari Bali. Usia pura ini sudah berabad-abad, sehingga sudah banyak direnovasi. Ketika kamu masuk ke area pura, kamu akan terpesona dengan kolam sepasang yang dipenuhi dengan teratai.

Ketika sampai di area dalam, kamu akan menemui tiga bangunan utama: gaduh, kemaliq, dan pesiraman. Gaduh adalah tempat suci bagi umat Hindu. Di gaduh kamu akan menemukan empat percabangan yang menyimbolkan dewa-dewa. Dewa-dewa tersebut adalah penghuni gunung, percabangan ke arah timur merupakan pemujaan untuk dewa penghuni Gunung Rinjani. Sedangkan ke arah barat adalah tempat pemujaan untuk penghuni Gunung Agung.

Selanjutnya kamu akan menemukan pintu masuk kemaliq ketika kamu menuruni tangga di depan gaduh. Kemaliq ini merupakan bangunan suci untuk pemeluk Islam Wetu Telu.

Di kamaliq ini terdapat dua kolam yang dihuni oleh ikan tuna. Ikan-ikan ini dianggap suci oleh masyarakat setempat. Kamu juga harus tahu bahwa mitosnya ikan-ikan tersebut merupakan jelmaan tongkat milik raja Lombok bernama Datu Milir. Ketika itu sang raja sedang berdoa untuk memohon hujan. Semoga kamu bisa melihat ikan tuna tersebut, sebab melihat ikan tersebut dipercaya oleh masyarakat akan mendapatkan keberuntungan. Kamu bisa mencobanya dengan melempar telur rebus untuk memikat ikan tuna keluar dari persembunyiaannya.

Kamu juga akan menemui sembilan pancuran. Empat buah di area kemaliq, dan lima buah di area pesiraman. Pesiraman ini tempat membasuh dan menyuscikan diri. Kamu bisa menyegarkan diri dengan air pancuran itu, apalagi air pancuran ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Jika kamu datang ketika bulan purnama keenam tahun Saka (sekitar bulan Oktober atau Desember) kamu akan menemukan upacara perang topat. Upacara yang merupakan salah satu prosesi pujawali atau syukuran ulang tahun pura.

Kamu sudah tidak sabar untuk mencatat alamat pura ini. Lokasi Pura adalah Jalan Gora No. 2, Lembah Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Pura Lingsar terletak sekitar 8 kilometer dari Kota Mataram. Kira-kira lama perjalanan 20 menit. Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi. Rutenya adalah Mataram-Cakranegara-Selagalas-Lingsar. Kamu juga bisa menggunakan kendaraan umum. Tiga kali berganti jurusan. Yaitu jurusan Ampena-Sweta, jurusan Sweta-Narmada, dan Narmada-Lingsar. Waktu untuk berkunjung sekitar pukul 0.30 sampai 18.00 WITA. Gunakanlah pakaian yang sopan. Tiket masuk free hanya sumbangan suka rela saja.

Lombok memiliki tradisi yang seru dan unik. Namanya Tradisi Rebo Botong Pulau Lombok. Di tradisi ini, kamu bisa melihat masyaraka mandi bersama, kamu juga dapat mengikutinya. Tradisi ini merupakan tradisi yang menjadi ikon Pulau Lombok. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk menyaksikan maupun ikut larut dalam tradisi seru ini.

Untuk mengikuti tradisi seru ini, kamu bisa datang hari Rabu terakhir di bulan Safar. Karena hari itulah akan dilakukan tradisi Rebo Botong, tradisi yang dilakukan satu kali setiap tahun. Sebuah tradisi turun temurun sebagai perayaan menyambut bulan Rabiul Awal (dalam kalender hijaiyah) yang tak lain adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kamu harus mengetahui bahwa tradisi ini tidak dilakukan di sembarang tempat, tetapi di sebuah sungai bernama Sungai Jangkuk yang ada di Dasan Agung,  Kota Mataram, Pantai Tanjung Menangis yang berada di Pringgabaya Lombok Timur, serta di Desa Kuranji yang ada di Luaapi, Lombok Barat.

Kamu pasti bisa menebak, kenapa tradisi ini dilakukan? Ya, sebab mandi merupakan simbol penyucian diri. Sehingga, karena merupakan simbol pensucikan diri dalam tradisi ini akan dipanjatkan serangkaian doa terlebih dahulu. Setelah berdoa, pemuka agama, kepala suku, serta orang-orang yang mengikuti tradisi akan mengantar sesaji ke Sesangi. Sesaji berupa telur, pisang, ketan, hasil tani, serta hasil laut. Sesaji ini sebagai simbol rasa syukur terhadap pemberian dan rezeki dari Sang Pecipta. Tak hanya itu, sesaji tersebut juga merupakan permohonan kepada Sang Pencipta untuk memohon perlindungan dari segala bentuk bencana ke tengah laut.

Setelah sesaji sudah diberikan kepada Sesangi. Kini saatnya tradisi pembersihan diri dengan mandi di tempat yang telah ditentukan. Kamu bisa ikut mandi dan becanda dengan masyarakat lokal. Air sungai yang segar dan suana ceria pasti akan membuat rasa penatmu hilang. Apalagi, kegiatan ini bertujuan untuk mensucikan diri. Jadi, kamu tidak boleh melewatkan untuk larut ke dalam tradisi yang seru ini.

Tradisi ini juga merupakan ajang silahturahmi antara masyarakat. Tradisi yang menyambung tali persaudaraan. Kamu bisa melihat keharmonisan dan persaudaraan antara masyarakat Lombok. Jadi, jika kamu berlibur di Lombok dan tepat ketika hari tradisi ini berlangsung jangan sampai melewatkan tradisi Rebo Bontong ini, ya! Atau bisa mencatat tanggalnya agar liburanmu tepat ketika hari tradisi ini berlangsung. Mengikuti tradisi ini pasti akan membuat liburanmu lebih berarti.

 

By Zahratul Wahdati

Kamu pernah bermain gangsing? Sudahkah pernah melihat atau bahkan bermain gansing khas Lombok?  Di Lombok bermain gangsing biasa disebut begasingan. Begangsingan ini bukan hanya permainan, kamu juga akan melihat unsur seni dan olahraga dari pengasingan, sebuah permainan yang tua dari Suku Sasak.

Sekelumit mengenai mitologi begansingan. Begasingan ini berasal dari kata Gang yang berarti lokasi lahan atau lorong dan Sing yang berarti suara. Permainan ini harus dilakukan di tanah yang kosong, di mana saja yang terpenting tanah kosong.

Unsur seni dan olahraga dapat kamu lihat dari cerminan nuasa masyarakat yang berpegang teguh kepada petunjuk dan tidak melanggar petujuk, yaitu aturan yang berlaku dalam permainan tersebut. Ini mencerminkan sikap sportif. Tak hanya itu gangsingan juga mengedepanan rasa saling menghormati dan kebersamaan yang kuat ketika melaksanakan tujuan. Begansingan juga berdasar pada nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri permainan ini.

Begasingan ini biasa dimainkan kelompok. Bisa dimainkan oleh siapa saja dari berbagai jenjang umur baik muda atau tua. Untuk jumlah pemainnya pun akan dimusyawarakan dan sesuai kesepakatan kedua belah pihak di lapangan. Tentu kamu bisa mencoba untuk meinkan gansingan. Untuk pemula cukup sulit memang, tetapi cobalah beberapa kali dan meminta diajarkan oleh para pemain.

Sebelum bermain, kamu perlu untuk mengenal jenis dari gasing asal Lombok ini. Kamu akan menemukan gansing berukuran besar. Gansing berukuran besar ini bernama pematok khusus digunakan untuk memukul. Kamu juga akan menemukan gasing berukuran kecil. Gasing ukuran kecil ini bernama pelepas khusus untuk diputar atau dipasang untuk segera dipukul. Kamu bisa mencoba bermain kedua jenis gasing ini.

Gasing ini terbuat dari kayu asam dan besi pinggirannya dari besi baja kolaher yang dipande. Besi tersebut dirawat dengan memakai autosol setelah dibersihkan dengan amplas lebih dahulu. Jadi, ketika kamu berlibur ke lombok sempat dirimu untuk melihat para pemain bermain gasingan. Pasti liburanmu semakin berkesan.

Kamu jangan lupa untuk menyimpan kenanganmu bermain gansing dan kehebatan para pemain bermain gasing dengan memvidio atau memfoto. Jangan lupa vidio dan fotomu di share di media sosial agar semua bisa mengenal permainan khas Lombok yang satu ini. Dan semakin banyak yang akan tertarik untuk belajar dan melestarikan budaya khas Indonesia, salah satunya gasingan khas Lombok ini.

By Zahratul Wahdati

Kamu sudah pernah melihat pakaian adat Lombok? Kalau sudah pasti kamu sudah melihat ikat kepala dalam pakaian adat Lombok. Ikat kepala itu bernama Sapuk dan Jong. Sapuk adalah nama dari ikat kepala bagi laki-laki, sedangkan Jong merupakan ikat kepala bagi perempuan. Kedua ikat kepala tersebut bagi masyarakat adat Bayan, umumnya digunakan ketika ritual adat tertentu dan di tempat tertentu pula.

Jong digunakan oleh kaum perempuan pada acara sareat maulid adat. Tepatnya ketika menumbuk padi di rantok besar yang terbuat dari kayu seperti sampan. Kamu bisa melihat acara atau tradisi tersebut pada ritual maulid. Tepatnya di kampung Karang Bajo, Kampung Bayan Timur, Kampung Bayan Barat dan Kampung Loloan. Di Kecamatan Bayan Lombok kaum perempuan akan menggunakan jong yang lebih dikenal dengan nama nyesek. Nyesek ini dibuat secara khusus dan tradisional.

Kamu akan menemukan beberapa warna dalam Jong Bayan. Terdapat warna merah dan biru sesuai selera yang menggunakannya.  Ukuran Jong hany 50 cm. Bentuknya segitiga lancip. Kamu bisa membeli jong ini di beberapa pengrajin nyesek (setuk jajak bilang bale) di Bayan dengan harga yang terjangkau.

Penggunaan Sapuk berbeda-beda saat ritual adat dilaksanakan. Sapuk dengan ikatan di bagian depan kepala atau kening digunakan pada acara gawe urip. Sedangkan ikatan di bagian belakang kepala digunaakan saat gawe pati atau ritual kemarian. Di luar ritual tersebut, ikatan sapuk berada di depan seperti Nyongkolan, kecuali para Pemangku adat dan Kyai.

Kamu bisa melihat berbagai jenis sapuk. Jenis tersebut digunakan tergantung jabatan pemakainya dalam pranata adat. Sapuk berwarna biru dipercaya merupakan warna langit, simbol warna mengayomi setiap makluk hidup di bumi. Sehingga sapuk berwarna biru ini digunakan oleh para Perumbaq.

Sapuk berwarna putih akan dikenakan oleh para Kyai Adat dan Pemangku. Warna putih dari sapuk ini menyimbolkan kesucian dan kebersihan hati pemakainnya sebagai tokoh dan suritauladan bagi masyarakat adat.

Terdapat juga sapuk batik bewarna-warni. Sapuk inilah yang bisa kamu gunakan karena merupakan sapuk yang digunakan oleh masyarakat adat secara umum.  Sabuk batik bewarna-warni ini juga sebagai simbol masyarakat adat Bayan yang memiliki kehidupan bermacam-macam, baik pekerjaan maupun garis keturunan.

Sapuk dan jong adalah salah satu adat dan tradisi Pulau Lombok yang patut dilestarikan dan dijaga dengan baik. Jangan sampai tergerus oleh modernisasi.

By Zahratul Wahdati

Sudah berapa banyak kesenian di Lombok yang sudah kamu ketahui bahkan sudah kamu tonton? Sudah mengenal kesenian Suling Dewa Bayan? Kalau belum mari berkenalan dengan Suling Dewa Bayan kesenian tradisional asli Lombok.

Kesenian Suling Dewa berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Suling dewa akan digelar ketika musim kemarau datang. Bisa ditebak, suling dewa digunakan untuk memohon turunnya hujan. Seperti yang sering kamu dengar, kekeringan dan musim kemarau sering terjadi di Pulau Lombok, sehingga ritual suling dewa selalu dilaksanakan ketika Pekan Apresiasi Budaya.

Kamu perlu tahu, Bayan merupakan pusat peradaban tertua di Pulau Lombok. Kamu dapat melihat berbagai budaya dan tradisi yang masih lekat dengan masyarakat Bayan. Masyarakat Bayan sangat peduli dan terus melestarikan seni tradisional lokal genius leluhur salah satunya adalah Suling Dewa.

Kesenian Suling Dewa memiliki sejarah yang panjang yang harus kamu ketahui. Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan dan menyiksa membuat tanaman dan hewan-hewan ternak mati. Tentu hal itu membuat kelaparan menyiksa masyarakat Bayan. Kemudian, ada suara-suara bijah dari langit yang memberikan petunjuk untuk menyelesaikan masalah tersebut. Suara-suara petunjuk itu didengar oleh seorang pemangku. Pemangku tersebut kemudian berkomunikasi dengan suara tersebut.

Dari komunikasi itulah, premangku adat diarahkan untuk kembali melakukan prosesi adat bernama mendewa. Prosesi ini dimaksud untuk mengakhiri musim kemarau yang menyiksa itu. Namun, pemangku adat kebingungan untuk mencari bahan-bahan untuk melakukan prosesi adat mendewa. Bahan-bahan itu antara lain sirih, pinang, lekoq buak (penginang). Padahal, seperti yang kamu tahu, saat itu musim kemarau dan semua tumbuhan mati.

Selanjutnya, wangsit mengyuruh pemangku membuat suling dari bambu. Suling sebagai alat hiburan ini ditiup oleh Jero Gamel sebagai awal memulai prosesi ini. Kemudian, dilanjutkan dengan memainkan komposisi atau gending bao daya yang memiliki arti mendung di langit.

Di prosesi pertama, langit tetap setia cerah, hujan tentu tidak turun. Namun, ajaibnya tiba-tiba terlihat awan gelap bergerak berarak-arak menyelimuti langit Bayan. Tepat pada malam Jumat, ketika prosesi kedua dari ritual ini dilakukan, hujan hampir menguyur Bayan. Namun tidak kunjung jatuh juga. Tetapi, masyarakat tidak patah semangat. Mereka tetap mengulang ritual ini berkali-kali. Sampai akhirnya hujan jatuh membasahi tanah Bayan yang gersang.

Itulah sekelumit tentang sejarah kesenian Suling Dewa asal Lombok.

By Zahratul Wahdati

 

Indonesia memang memiliki banyak sekali keistimewaan, salah satu di dalam bidang seni tari. Setiap daerah memiliki tari yang berbeda. Nah, di Kabupaten Lombok Utara tepatnya di Kecamatan Bayan terdapat sebuah tari bernama Tari Gegerok Tandak Loloan Bayan. Tari Gegerok ini pertama kali dimainkan oleh orang dari garis keturunan Loloan yang terdapat di Kecamatan Bayan.

Kurang diketahui jelas nama lengkap dan tahun berapa tari ini pertama kali muncul dan dimainkan. Namun dari keterangan yang memiliki garis keturunan tersebut adalah Amaq Nursawi yang diperkirakan hidup sekitar 1,5 abad lalu.

Tari Gegerok Tandak berasal dari kata burung dan tandak. Burung memiliki arti bareng atau bersama, sedangkan tandak merupakan tarian yang dilakukan secara bersama-sama. Sehingga, tarian yang menjadi hiburan ini dengan perumpaan binatang, karena sifat manusia yang mengganggu merupakan dari sifat binatang. Seperti babi, burung gagak, dan kera. Suara ketiga hewan ini akan menjadi nada tarian. Yaitu mm tiruan babi, nyuk-nyuk dari burung gagak, uu dari burung gagak.

Kamu harus tahu, alasan Tari Gegerok ditarikan adalah untuk mensukseskan prosesi kitanan. Tari ini digunakan untuk mengalihkan hadirin yang datang agar menonton tari ini, sehingga acara khitanan  berjalan dengan lancar.

Tarian gegorok memang hanya digunakan ketika ada ritual khitanan secara adat. Di dalam acara khitanan akan ada prosesi majang. Majang ini berupa menghiasi berungak dengan menggunakan kain oleh para pranata adat. Selain dimainkan di prosesi majang, tarian ini juga akan ditarikan saat peosesi khitanan dan melasut. Melusut ini merupakan acara ketika membuka kain yang digunakan untuk menghias berugak.

Ketika kamu melihat tarian ini, kamu pasti tidak akan melihat alat musik. Ya, tarian gegerok tandak adalah jenis tarian yang pertama kali di wilayah Bayang yang tidak menggunakan alat musik.

Tarian gegerok ini ditarikan oleh laki-laki yang ikut dalam acara khitanan, dan harus ada pemimpin yang harus dari garis keturunan gegerok tandak (garis keturunan loloan), semester lainnya bebas. Untuk jumlah personil minimal 4 orang, lebih banyak lebih baik. Maksimal 25 orang.

Kamu juga harus tahu ada duan proses dan tugas yang dilakukan gegrok tandak yaitu lawas dan onceq. Lawas merupakan pemimpin dalam barisan. Tugasnya untuk membuka, mengatur barisan. Sedangkan onceq merupakan orang yang mengungkapkan pantun secara bergantian.

Tarian gegerok tandak juga memiliki filosofi yaitu rasa gotong royongan, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Ini bisa dilihat dari barisan yang tidak boleh putus dan selalu berdekatan.

By Zahratul Wahdati

Kamu pasti sudah tahu masyarakat Pulau Lombok mayoritas merupakan suku Sasak. Sebuah suku yang memiliki banyak tradisi dan adat. Salah satunya adalah kesenian tradisonal, yang sayangnya keberadaannya terancam lenyap. Kesenian tersebut bernama Musik Semprong.

Kamu mungkin asing dengan kesenian satu ini. Sebuah kesenian unik yang mempergunakan bambu sebagai alat mussiknya. Dalam kesenian ini ada tiga alat musik utama yaitu semprong, suling, dan pengkelek hujan. semprong ini terdapat dua jenis. Yang satu berukuran besar berukuran datu meter lebih dan yan g satunya kecil sekitar 80 cm. Semprong besar terbuat dari bambu sentul yang berbuku panjang, sedangkan emprong kecil ini terbuat dari kayu selelo. Kedua jenis bambu ini terkenal menghasilkan nada yang sempurna.

Pengkelek hujan merupakan tamborin alat musik semprong. Bahan baku yaitu bambu.  Dari alat musik ini, kamu akan mendengar suara gemerincing yang dihasilkan bukan dari lempengan besi yang disatukan layaknya tamborin, tetapi dari tulang-tulang binatang  yang dimasukan ke dalam pengkelek hujan. Tulang hewan tersebut seperti buaya, macan, ikan hiu, dan berbagai tulang binatang buas lainnya. Menakjubkan, bukan? Tulang-tulang hewan buas itu dipercaya sebagai mantra penyampaian pesan ke langit agar hujan turun. Ya, masyarakat Sasak zaman dahulu memainkan musik semprong sebagai alat pemanggil hujan sampai sekarang.

Mendengar nada semprongan dan menyimak setiap alunan nadanya, imajinasi kamu akan berkelana menyusuri ruang dan waktu. Seakan-akan kamu sedang menikmati suasana hutan dan suara orkesta alam yang menakjubkan. Imajinasimu pun akan dibawa ke lautan, mendengar suara deru ombak, kemudian kembali ke suasana tenang dan bersahaja dari sebuah desa. Imajinasi tersebut hadir karena musik semprong merupakan nada penghormatan pada alam, seperti suara ombak, pemujaan, binatang, dan suara alam lainnya.

Memainkan alat musik Semprong memang mudah. Akan tetapi nada visualisasi alam itulah yang membuat musik semprong hanya bisa dimainkan oleh orang-orang yang piawai. Tidak sembarangan orang bisa menghadirkan visualisasi alam tersebut. Alat musik semprong yang memiliki nada bass harus ditiup dengan menggunakan rongga diafragma atau napas dada dan tenggorokan, sehingga dapat menciptakan keharmonisan dengan alat laiinya yaitu suling dan pengkelek hujan.

Hal ini menjadikan musik semprong kesulitan dalam regenerasi. Namun jika kamu belajar dengan sungguh-sungguh dan sabar untuk menjalani prosesnya, kamu pasti dapat membentuk visualisasi tersebut. Yuk belajar musik semprong asal Lombok ini!

By Zahratul Wahdati

Kamu sudah membaca artikel tentang sejarah kesenian Suling Dewa, bukan? Kalau belum bisa klik ini sejarah kesenian Suling Dewa. Kesenian Suling Dewa merupakan kesenian dari pulau Lombok. Tepatnya berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Suling dewa akan digelar ketika musim kemarau datang.

Dalam memainkan gending bao daya ini atau lebih dikenal dengan Kesnian Suling Dewa terdapat dua unsur. Pertama gamel atau peniup suruling dan kedua adalah jero gending atau sosok sinden dalam kebudayaan Jawa. Selain komposisi Bao Daya tersebut, masyarakat mempunyai beberapa komposisi lainnya. Misalnya, komposisi Putri Cina, Lembuneng Meloang, dan Lokok Sebie.

Kamu juga harus mengetahui filosofi yang terkandung di dalam Kesenian Suling Dewa. Filosofi yang sangat mendasar dan mulia. Alat musik ini menggambarkan wujud manusia. Hal ini karena jika seruling tidak diberikan hembusan napas, suling ini tidak akan berbunyi dan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, bila Tuhan tidak memberikan roh dan hembusan napas, maka manusia tidak akan memiliki kehidupan.

Jika kamu perhatikan, di bagian ujung atas seruling dewa, kamu akan menemukan rongga tempat untuk meniup. Rongga itu dinamai Slepers. Yap, rongga inilah tempat untuk menghembuskan napas yang akan menghasilkan nada. Di badan suling, kamu akan menemukan enam lubang. Enam lubang ini dinamakan pengantep fungsinya untuk memainkan tangga nada.

Enam pengantep ini juga memiliki filosofinya, yang harus kamu tahu. Filosofinya adalah sebagai simbol indra yang dimiliki manusia. Suling Dewa ini adalah suling yang dikeramatkann oleh sebagian masyarakat Lombok Utara. Sehingga, seruling dewa langit tidak boleh dimainkan secara sembarangan. Hanya boleh dimainkan di saat tertentu, seperti pada saat prosesesi adat Gawe Alif, musim kemarau, atau selametan desa.

Memainkan suling Dewa juga harus melalui prosesi adat terlebih dulu. Jenis perelngkapan pun sudah menjadi peraturan mutlak yang tidak bisa dilanggar. Tetentuan tersebut berupa kepeng atau uang bolong sebanyak 44 buah, lekoq buaq, bantal, kemenyan, nyiur gending, dan bunga harus disiapkan terlebih dahulu.

Bukan hanya sebagai cara memanggil hujan, Suling Dewa ini juga diyakini oleh masyarakat sebagai pengobatan. Ketika digunakan dalam pengobatan, peniup suling akan mengalami kedewaan atau kesurupan. Kemudian, pihak yang sakit pun dipersilahkan untuk menyampaikan tujuan dan keinginannya. Selanjutnya, pasien akan diberikan wejangan untuk menyelesaikan masalahnya. Kamu mau mencoba pengobatan ini? Kamu bisa mendatangi Desa Bayan Lombok.

By Zahratul Wahdati

1 2 3 4 5