+6285338000050 +6282247117719 +62370-6173082 lombokclick@gmail.com
+6285338000050 +6282247117719 +62370-6173082 lombokclick@gmail.com

Category

Budaya dan Sejarah

Kamu ingin melihat salah satu kesenian yang cukup langka di Pulau Lombok? Namanya kesenian Gong Suling. Kesenian ini hampir punah, namun kamu bisa melihat keelokan kesenian ini di Sanggar Seni Lembusari, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sebuah sanggar seni yang patut dicontoh oleh kita karena telah melestarikan kesenian yang hampir punah seperti Gong Suling.

Suara gong suling yang mendayu-dayu, pasti akan membuatmu terpikat dan sangat menikmati alunannya. Nadanya yang mendayu-dayu seperti suara embusan angin yang kencang terus lirih diiringi dengan suara pukulan gong yang bergetar. Perpaduan dua nada dari dua alat musik ini akan membuatmu larut dalam kemerduan dan sensasi releksasi musiknya.

Sayangnya, kesenian Gong Suling yang seharus kita banggakan mulai tidak diminati. Bahkan regenerasi dalam tarian ini cukup menyedihkan. Penari bahkan ada yang sudah uzur, entah di mana para pemuda dan pemudi yang harusnya turut serta melestarikan kesenian gong suling ini.

Maka dari itu kamu harus tahu mengenai gong suling. Gong suling ini terbagi dalam tiga jenis. Yang pertama suling saling sahut menyahut menciptakan suara irama etnik yang begitu harmoni dan sempurna. Yang kedua dentuman suara gong pertanda ketukan akan berpindah nada. Yang ketiga rincik dan petuk menyelaraskan sajian musik tersebut menjadi utuh dan indah. Intinya kesenian gong suling lebih menitik beratkan pada seruling dan gong sebagai pelengkap sajian musiknnya.

Kamu juga perlu tahu, ada tiga jenis seruling yang digunakan di dalam seruling gong ini. seruling dengan ukuran kecil disebut pemetik, seruling berukuran sedang disebut penegar, dan seruling berukuran besar yang disebut barangan. Nah, untuk pemain kesenian ini biasanya adalah kelompok musik. Anggotanya sekitar 25 orang. Untuk formasinya adalah tiga orang pemain akan memainkan tiga gong. 21 pemain akan meniup seruling tiga jenis suling. Sementara tiga orang lainnya akan memegang rincik, petuk, dan seroang vokalis atau penyanyi.

Melihat hampir kesenian khas Lombok ini hampir punah ini rasanya miris sekali. Padahal dulu di setiap desa di Narmada terdapat minimal datu kelompok gong suling. Dulu masyarakat sangat mencintai budaya dan kesenian asli, tetapi sekarang hanya ada satu kelompok saja yang masih eksis dan mencintai kesenian gong suling ini. Pastikan kamu juga menonton pertunjukan mereka dan membantu untuk melestarikan kesenian gong suling ini dengan caramu sendiri. Dari yang kecil misalnya, menguplod foto atau vidio musik gong suling agar masyarakat sadar betapa indah musik gong suling khas Lombok ini.

By Zahratul Wahdati

Kamu mencari oleh-oleh khas Pulau Lombok? Kamu bisa membeli Gula Aren Desa Kakait Khas Lombok. Gula aren di Desa Kakait semanis kamu. Kamu tidak boleh melewatkan kemanisan gula aren ini.

Desa Kakait memang moyoritas penduduknya adalah petani dan pedagang.  Terdapat banyak sekali perkebunan pohon aren di Desa Kakait. Biasanya hasil kebun tersebut di jual ke pasar. Akan tetapi, jika kamu melewati jalan Desa Kakait kamu pasti akan menemukan para pedagang menjual hasil kebunnya di pinggir jalan. Kepopuleran air tuaknya biasanya menarik para pengendara untuk singgah dan menikmatinya. Kamu juga bisa menemukan kolang kaling dan tentu gula aren.

Kita fokus kepada kegunaan pohon aren untuk membuat gula aren khas Desa Kakait, ya! Untuk membuat gula aren, bunga jatan pohon enau dikumpulkan dahulu ke dalam sebuah cetakan bambu. Hal ini untuk mencegah nira mengalami peragian karena nira yang mengalami fermentasi tidak dapat digunakan untuk membuat gula aren. Makanya kegunaan bumbung bambu tersebut ditambah laru atau kawao berfungsi untuk pengawet alami.

Setelah jumlahnya kira-kira cukup, nira tersebut akan direbus di atas tunggu dengan wajan besar. Dalam memasakan ini, kayu untuk tunggu sangat diperhatikan. Kayu yang digunakan aren yang sudah tua. Hal ini dikarenakan kayu aren tua dapat mempercepat proses memasak. Meskipun memasak dengan kayu ini lebih cepat, namun membuat gula aren harus menggunakan api yang tidak terlalu besar. Karena jika menggunakan api besar gula akan hangus dan rasanya akan pahit, warnanya pun menjadi hitam.

Setelah gula aren menjadi pekat dan sulit atau berat ketika diaduk berarti gula aren sudah masak. Membuktikan gula aren sudah masak atau belum juga bisa dengan menciduk adonan dari wajan dan dituangkan kembali. Jika adukan akan putus. Kemudian jika adonan dituangkan ke dalam air ginggin, cairan tersebut akan membentuk benang dan tidak putus-putus, maka adonan sudah siap untuk dicetak.

Gula cair tersebut dicetak dalam batok-batok kelapa, kemudian setelah mengeras dikeluarkan dari cetakannya. Di Desa Kakait ini kamu tidak hanya bisa melihat proses pembuatan gula aren. Kamu juga bisa melihat masyarakat desa ini memanfaat pohon aren dengan berbagai cara. Kamu bisa melihat pembuatan kolang-kaling, kolang-kaling ini terbuat dari buah aren. Kamu juga bisa melihat pembuatan ijuk dari pohon enau yang dipintal menjadi tali.

Selamat menikmati gula aren yang super manis di Desa Kakait Lombok, ya!

By Zahratul Wahdati

Lombok memang kaya akan budaya dan pariwisata yang kuat. Terdapat berbagai objek wisata dan budaya yang disajikan pulau ini. ada rumah adat yang unik, suku, dan juga tarian. Di Lombok memiliki berbagai tarian tradisional, salah satunya adalah tari gandrung Lombok. Tarian ini sudahkah kamu kenal? Jika belum, mari mengenal tarian indah dan menarik asal Lombok ini.

Tari gandrung ini berupaka seni tari yang populer di kalangan suku Sasak. Tari ini juga disebut tari jengger. Sejarawan mengatakan tarian ini sudah ada sejak zaman Erlangga di Jawa Timur.

Awal lahirnya tari gandrung ini adalah ketika para prajurit pulang dari medan perang. Kemudian datang seorang wanita cantik yang menari dan mengajak satu per satu prajurit yang dikehendakinya untuk menari bersama. Makanya, tarian ini biasa ditarikan dengan penonton yang melingkar. Sehingga di dalam lingkaran itu menjadi sebuah panggung sederhana.

Secara umum, kamu harus tahu tari gandrung ini terdiri dari tiga bagian: bapangan, gandrangan, dan parianom. Bapangan merupakan bagian ketika gandrung digambarkan sedang memperkenalkan diri kepada penontong dengan mengitari arena tempat ia menari. Kemudian, dilanjutkan dengan bagian gandrang yakni ketika penari bergerak lincah mengitari arena dengan kipas di tangann seperti burung elang yang mengincar mangsa.

Biasanya, penari ini akan mengincar penonton di baris depan untuk menemaninya menari. Ketika penari sudah menemukan mangsanya ia akan menyentuh atau melempar kipasnya pada orang tersebut. Bagian ketiga yaitu parianom yaitu saat tarian hanya diiringi redep dan seruling, dibantu suara gendang, petuk, rincik, dan gong. Di bagian inilah penari gandrung akan menyanyi disebut dengan bersandaran.

Kamu sudah mengenal bagian dari tarian gandrung, kini kamu juga harus mengenal mengenai peralatan musik dalam tari gandrung. Alat musi yang mengiringi tari gandrung adalah gamelan dengan ragam yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Tarian ini biasanya dipertujukan ketika musim panen. Dulunya tarian ini dimainkan oleh penari pria, tetapi kemudian dimainkan juga oleh penari wanita. Jadi sempatkan diri untuk menonton tarian gandrung ketika kamu berlibur di Lombok, ya!

Untuk menyebaran tarian gandrung di Lombok cukup merata. Kamu juga akan menemukan berbagai aliran tarian gandrung di berbeda daerah. Seperti gandrung bertais dari daerah bertais dan dasan tereng yang masih mempertahankan keaslian tarian tradisi tarian gandrung.

By Zahratul Wahdati

Jalan-jalan ke Lombok, kamu jangan lupa pulang membawa oleh-oleh khasnya. Salah satu oleh-oleh khas dari Pulau Lombok adalah kerajinan Cukli. Kerajinan ini terbuat dari kayu dengan hiasan potongan kerang yang ditanam dalam kayu. Kamu bisa memilih dari mulai asbak, tempat tisu, kotak perhiasan, pigura, kursi, meja, lemari, bahkan tempat tidur.

Kerajinan unik dan cantik Cukli bisa kamu temui dengan mudah di Desa Lendang Re Lombok. di desa ini kamu tidak hanya bisa membeli cukli, kamu juga dapat melihat proses pembuatannya atau bahkan ikut membuatnya. Desa Lendang ini terletak sekitar 10 kilometer sebelah timur Mataram. Tepatnya di Desa Sayang Sayang, Kabupaten Lombok Barat. Waktu terbaik untuk berkunjung sekitar pukul 08.00 sampai 11.00 WITA. Untuk harga tiketnya gratis. Terdapat lahan parkir dan restoran.

Menuju Desa Lendang Re, jika kamu menggunakan kendaraan pribadi, rutenya sebagai berikut: Jl. Pejanggil-Jl. Sultan Hasanusin-By pass. Lihat di sisi kanan jalan, kamu akan menemukan gapura besi sederhana bertuliskan selamat datang di sentra kerajinan Cukli Lendang Re. Kalau kamu binggung, kamu bisa bertanya kepada orang di jalan tentang keberadaan desa ini.

Di Desa ini kamu akan menemukan empat keluarga yang membuat kerajinan cukli. Dulu sebelum bom bali 1, semua keluarga di desa ini menggeluti kerajinan cukli, namun sekarang tinggal 4 keluarga saja. 4 keluarga ini rumahnya berdekatan jadi kamu lebih mudah untuk melihat proses pembuatan cukli.

Bahan-bahan pembuatan cukli adalah kayu mahoni, biasanya juga kayu jati tetapi harganya lebih mahal karena kayu jati harus didatangkan dari Jawa. Bahan lainnya seperti baham mentah kilit kerang didatangkan dari beberapa pulau lainnya seperti Bali, Pulau Sulawesi, dan Flores. Jadi bahan bakunya harus didatangkan dari luar pulau Lombok.

Di Desa ini kamu pasti antusias untuk melihat proses pembuatan cukli. Dimulai dari proses awal yaitu pemotongan kayu, kemudian berlanjut proses penyusunan potongan kayu, lalu pemotongan kulit kerang, penanaman kulit kerang, sampai proses finising berupa pemolesan, penghalusan, penghalusan, dan penyemiran.

Kamu juga bisa memesan cukli sesuai keinginanmu, dan dapat dikirim ke alamat kamu. Kamu juga bisa membeli cukli yang tersedia untuk dibawa sebagai oleh-oleh untuk orang-orang yang kamu sayangi di rumah.

Jangan lupa promosiin cukli kepada teman-teman mensosmu agar mereka jadi iri dan juga ingin membeli kerajinan cantik khas Lombok ini.

By Zahratul Wahdati

Bagi kamu yang punya jiwa petualang, pasti sudah sering menyusuri hutan, bukan? Tetapi sudah pernahkah menyusuri hutan mangrove? Kalau belum kamu bisa mencobanya. Nah, untuk kamu yang berlibur di Lombok kamu bisa mencoba berpetualang menyusuri Hutan Mangrove Gili Sulat Lombok.

Gili Sulat merupakan sebuah pulau yang dilewati Garis Wallace. Gili ini memiliki hutan bakau atau mangrove yang akan memperlihat keindahannya padamu. Di tempat ini, kamu akan menemukan berbagai jenis burung, dan satwa-satwa unik lainnya. Sebuah destinasi yang asyik untuk di coba bukan?

Gili Sulat berada di Kabupaten Lombok Timur. Panjang pulau ini sekitar 5,2 kilometer. Di hutan bakau ini, kamu akan disuguhi suasana yang sangat alami dan asri. Kamu juga akan menemukan berbagai spesies burung. Salah satunya adalah burung bertong atau burung maleo yang langka. Dalam kurun waktu tertentu burung ini akan bermigrasoi ke daratan lain seperti Sumbawa, Bima, Bali, dan Sulawesi.

Bertualang di hutan mangrovel Gili Sulat pasti akan membuatmu sangat terkesan. Itu karena Gili Sulat memiliki spesies mangrove terlengkap se-Asia Tenggara. Namun, kamu mesti hati-hati karena di tempat ini juga hidup beberapa spesies ular, salah satunya ular hijau.

Keeksotisan hutan mangrove Gili Sulat kurang terkenal di wisatawan domestik. Termasuk wisatawan mancanegara. Kebanyakan wisatawan lebih memilih mendatangi Gili Kondo yang berada di sebelah timur Gili Sulat. Jadi jangan lewatkan mengunjungi Gili Sulat dan ceritakan pada pengujung lain Gili Sulat tidak kalah dengan Gili Kondo.

Meskipun tidak ada rumah apalagi warung di gili ini, kamu akan menemukan pos jaga serta jalan masuk ke hutan mangrove. Jalan yang terbuat dari papan di tengah-tengah rerimbunan hutan bakau ini memiliki panjang 400 meter.

Sepanjang 400 meter itu, kamu tidak akan henti-hentinya mendengar nyanyian para burung. Burung-burung itu hinggap di atas pohon mangrove. Kamu juga akan menemukan ikan-ikan bermain di akar-akar bakau, jika kamu menenggok ke bawah. Dan berhentilah sejenak untuk menikmati suasana alamnya. Mendengar nyanyian burung, melihat ikan dan alam yang menenangkan. Dan saat inilah waktu yang tepat untuk mengisi perut dengan bekal yang kamu bawa.

Kalau mau mencoba sensasi lain, kamu bisa menyusuri hutan mangrove ini dengan kano. Melewati lorong-lorong hutan mangrove yang lebat. Air nya pun tenang. Tenang saja, kamu tidak akan tersesat karena ujung lorong akan membawamu ke ujung gili.

Untuk mencapai Hutan Mangrove Gili Sulat kamu harus menyeberang dari pelabuhan di dusun Transad, Desa Labuhan, Kecamatan Sambelia. Di dusun ini kamu bisa menyewa kapal untuk mengantarkanmu ke Gili Sulat. Waktu yang akan kamu tempuh sekitar 1 jam.

Lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Berikut rutenya menempuh jalur Mataram-Narmada-Kopang-Masbagik-Aikmel-Labuan Lombok-Desa Labuan Pandan. Dengan jarak tempuh sekitar 85 Kilometer, atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

By Zahratul Wahdati

Ingin mencoba tempat liburan unik di Lombok? Coba, deh datang ke Pura Taman Mayura Lombok. Kamu akan menemukan 3 suasana unik, yaitu suasana alam yang super asri, suasana religius, serta suasana sejarah. Lengkap bukan?

Nama Pura Mayura diambil dari bahasa Sangsekerta yang artinya “burung merak”. Alasan pemberian nama burung merak karena dulu keberadaan burung merak sangat membantu masyarakat setempat untuk mengusir ular-ular yang banyak berkeliaran dan meresahkan masyarakat yang hendak berdoa di pura. Sehingga, beberapa penasehat menyarankan untuk berternak burung merak, dan dipelihara di sekitar pura. Karena jasa burung merak tersebut maka nama pura ini Mayura.

Awalnya nama Pura yang dibangun Raja A.A Made Karangasem sekitar tahun 1744 ini bukan Mayura tetapi Taman Kelepug. Nama Mayura dipakai sekitar tahun 1866 ketika taman ini direnovasi oleh A.A Ngurah Karangasem.

Kamu pasti akan takjub ketika masuk ke Taman Mayura. Melihat taman yang tertata rapi dan indah. Kamu akan merasakan kedamaian yang menyejukan hati. Kamu juga akan melihat pohon-pohon manggis memagari sekeliling taman. Rumput hijau yang terawat sangat indah untuk ditatap. Kamu juga akan menemukan sebuah kolam dengan bangunan di tengah-tengahnya. Bangunan tersebut disebut Rat Kerte atau Gili (pulau kecil dari bahasa sasak).

Kamu jangan sampai melewatkan komplek pura yang berada di hulu kolam. Banyak pengunjung yang melewatkan komplek tersebut karena terlalu asik dengan luasnya taman ini. padahal, komplek tersebutlah tempat roh-roh dari area Mayura berada.

Ketika kamu menginjak komplek pura, kamu akan menemukan empat pura utama: Pura Rinjani, Pura Ngelurah, Pura Padmasana, dan Pura Gedong. Meski pura indentik dengan umat hindu, kamu bisa kok masuk dan melihat-lihat pura ini. Pura ini dibuka kecuali ditutup pada waktu-waktu tertentu saja.  Seperti saat perayaan Galungan, perayaan Kuningan, serta hari raya umat Hindu lainnya.

Kamu tidak boleh melewat objek wisata yang dekat dari pusat kota Mataram ini. Cukup 15 menit saja dari pusat kota. Letaknya di daerah Cakranegara, Mataram. Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi, dari perempatan Cakranegara hanya 500 meter letak pura ini. Kamu juga bisa menggunakan angkutan umum berwarna kuning menuju ke arah Timur. Biayanya hanya Rp. 5.000 per orang.

Di pura ini, kamu harus memakai pakaian yang sopan serta selendang yang diikat ke pinggang, tidak merokok atau makan di area pura. Datanglah pada pagi hari, karena pada siang hari beberapa tempat sudah tutup. Harga tiketnya Rp. 2.500 per orang.

By Zahratul Wahdati

Kamu yang suka jalan-jalan plus belajar alias nambah ilmu? Pasti suka dong ke Museum? Museum NTB Lombok menjadi salah satu yang harus kamu kunjungi. Museum yang biasanya disebut juga Museum Lombok ini berada di pusat Kota Mataram, dekat dengan Sayang-sayang (Desa Rendang Le). Museum ini dirintis sejak 1976, kemudian diresmikan pada 23 Januari 1982.

Di museum ini kamu akan menemukan sekitar 7513 koleksinya. Beberapa koleksinya merupakan peninggalan bersejarah di masa sebelum manusia mengenal tulisan, lho! Koleksi itu merupakan peninggalan dari suku yang mendiami Lombok dan Sumbawa. Tak hanya itu terdapat koleksi peninggalan bangsa Cina yang pernah singgah untuk berdagang di Lombok.

Ketika kamu memasuki Museum Lombok, kamu langsung disapa oleh buaya muara yang besar dan panjangnya 4,1 meter. Tenang buayanya tidak akan memakanmu, soalnya buaya ini sudah diawetkan dan disimpan di kotak kaca. Langkahmu pasti akan pelan-pelan, karena pandanganmu akan terkesima melihat lukisan-lukisan di dinding sisi kanan-kiri ruangan. Lukisan itu menggambarkan kepadamu tentang kesenian Pulau Lombok dan Sumbawa. Setelah melewati lobi, kamu akan sampai di 2 gedung utama. Gedung itu merupakan ruang pameran permanen.

Di gedung pertama, kamu akan melihat miniatur Pulau Lombok dan Sumbawa. Saking detailnya miniatur ini, kamu akan melihat dataran rendah, danau, pegunung, dan sungai yang ada di kedua pulau tersebut. Si sisi utara, kamu akan disuguhkan informasi mengenai spesies flora dan fauna di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Di Gedung kedua yang ukurannya lebih besar, kamu akan disambut oleh sepasang pengantin memakai pakaian tradisional beberapa suku. Di antaranya Suku Sasak, Bima, Sumbawa, dan Bali. Di gedung ini kamu juga akan melihat Jaran Kumput, alat tenun tradisional, hasil tenunan dengan motif khas Suku Sasak dan Suku Bima. Di sisi utara ruangan, kamu akan melihat porselen peninggalan bangsa Cina (Dinasti Ching) abad ke 10-14. Terdapat juga alat musik tradisional, peralatan ibadah umat Hindu dan Islam, perhiasan, pelengkapan upacara, berbagai keris dan berbagai hiasan. Benda-benda seni bernilai tinggi ini merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan di NTB.

Di sisi selata, kamu akan menemukan Tangkepan sebah dokumen naskah kuno terbuat dari daun lontar dan kayu ditulis dengan huruf Sasak dan Arab. Koleksi-koleksi yang lain masih banyak lagi, dan bisa kamu lihat sendiri di Museum ini.

Lokasi Museum ini di Jalan Panji Tirta Negaa No.06 Mataram. Untuk masuk itu gratis. Kamu bisa berkunjung pukul 08.14.00 wita. Khusus hari Jumat pukul 08.00-11.00 WITA.

By Zahratul Wahdati

Liburan ke Lombok jangan lupa beli oleh-oleh khasnya. Salah satunya adalah Kain Tenun Desa Sukarara Lombok. Di desa yang letaknya di Kecamatan Jonggat, Lombok Utara ini, kamu akan mendapati moyaritas penduduknya mengoprasikan alat tenun. Dan Desa Sukarara memang menjadi destinasi liburan khususnya untuk kamu yang ingin mengenal lebih jauh budaya Lombok.

Di Desa Sukarara kamu akan melihat masyarakatnya asik dengan alat tenun sederhana. Alat tenun itu terbuat dari kayu dan cara pengoprasiaannya juga sederhana. Dari tangan-tangan terampil penduduk Desa Sukarara ini menghasilkan pakaian tradisional, taplak meja, selimut, dan selendang dengan motif-motif yang indah dan berkualitas. Kamu pasti akan terpesona melihat karya seni bernilai tinggi itu.

Di Desa Sukarara, dulu yang menenun hanya para wanita. Ini karena terdapat mitos kalau kaum pria mengerjakan tenunan makan pria itu akan mandul. Kemudian mitos itu mulai ditinggalkan karena kamu juga akan melihat para pria menenun di Desa Sukarara. Para pria mengerjakan tenunan ikat sedangkan wanita mengerjakan tenunan songket.

Bahan pembuatan kain tenun beberapa didatangkan dari Pulau Jawa seperti benang katun, nilon, sutra, benang perak, dan benang mersis. Nah, kalau bahan pewarna, kain tenun Lombok masih menggunakan bahan alami. Seperti kulit kayu mahoni, biji buah asam, daun sirih, dan kunyit.

Di Desa Sukarara, kamu akan menemukan berbagai jenis motif kain. Kamu bisa memilih motif yang kamu suka. Ada motif keker, serat penginang, cungklik, dan lain-lain. Yang paling disukai dan motif ikon Desa Sukarara adalah motif subahnala. Motif ini berasal dari kata subahanallah. Ini karena ketika para penenun menenun sering mengucapkan subahanallah. Ini merupakan motif dengan kesulitan tingkat tinggi sehingga memerlukan waktu cukup lama untuk membuatnya.

Untuk harganya, kamu bisa menemukan harga yang bervariasi. Mulai dari selendang dengan harga hanya Rp.25.000 saja sampai satu set pakaian tenun dengan harga jutaan. Kamu juga akan menemukan kain batik di sini dengan harga bervariasi juga.

Untuk mengunjungi tempat ini kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun umum. Ini jalur ketika kamu menggunakan kendaraan pribadi rutenya sebagai berikut Mataram-Cakaranegara-Kediri-Sukarara. Sedangkan jika kamu ingin menggunakan kendaraan umum, kamu bisa naik angkuran dengan jurusan Mataram-Bertais dengan membayar Rp. 3.000 dan melanjutkan perjalanan ke Desa Sukarara dengan menggunakan Cidomo dengan membayar Rp.5.000.

By Zahratul Wahdati

Ketika kamu berlibur ke Lombok, kamu pasti akan menemukan di sudut-sudut pulau ini beberapa topeng yang dijual sebagai merchandise. Jika kamu teliti, kamu akan menemukan topeng-topeng tersebut, yaitu topeng-topeng tersebut tidak memiliki ekpresi terlihat dingin. Kamu bisa membelinya dan melihat pembuatannya di Desa Labuapi Lombok.

Di Desa Labuapi kamu tidak hanya akan melihat pembuatan topeng saja, kamu juga akan melihat barang-barang seni tradisional lainnya. Seperti patung, tempat buah, baki, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Barang-barang seni itu kebanyakan terbuat dari kayu, atau ada juga yang dikombinasikan dengan pecahan kulit kerang atau cukil. Tentu yang paling memikat adalah topeng tanpa ekspresi tersebut.

Pengrajin-pengerajin di desa ini sangat ramah kepada pengunjung. Mereka akan menyambutmu meskipun kamu hanya sekedar memotert karya mereka. Kamu bisa melihat keahlian mereka dalam memahat calon topeng, mengecat sampai selesai menjadi sebuah topeng khas Lombok.

Dulunya, topeng tanpa ekpresi ini terbuat dari kayu pohon mahogani. Namun karena pohon mahogani sulit didapatkan sekarang, bahan tersebut di ganti dengan pohon lainnya. Misalnya, pohon mangga, nangka, atau kelengkeng. Sedangkan untuk bahan lain seperti kerang atau cukil didatangkan dari desa penghasil cukil yaitu Desa Lendang Re.

Kamu pasti tidak akan rugi mengunjungi Desa Labuapi. Karena desa ini sudah menjadi sentra kerajinan topeng dan kerajianan kayu sejak tahun 1995. Kerajinan-kerajinan desa ini biasanya dipasarkan melalui kolega-kolega yang berada di Pulau Bali. Tak hanya itu kerajinan dari desa ini juga di eskspor ke luar negeri juga. Jadi, jangan sampai kamu tidak membeli kerajinan-kerajinan di desa ini sebagai oleh-oleh ataupun untuk mempercantik rumahmu.

Letak dari Pusat Kerajinan Kayu Desa Labuapi ini hanya 11 kilometer dari kota Mataram. Kamu bisa mengunjunginya dengan kendaraan pribadi. Menempuh jalur menuju Pelabuhan Lembar, kemudian kamu bisa menanyakan jalan menuju Desa Labuapi kepada penduduk setempat. Ini karena tanda jalan menuntunmu ke desa ini tidak ada.

Lebih baik kamu berkunjung pada pagi hari sebab para pengrajin biasanya mulai membuat kerajinan mereka di pagi hari. Kamu juga harus berkeliling, sehingga kamu akan bisa melihat setiap pengerajin membuat kerajinan berbeda-beda. Ketika kamu membeli, jangan ragu untuk menawar tentu dengan bahasa yang sopan. Memasuki kawasan ini kamu tidak dipungut biaya sedikit pun.  Jadi, tunggu apalagi siapkan diri untuk mengujungi Desa Labuapi ini.

By Zahratul Wahdati

1 2 3 4 5