Mengenal Tari Gegerok Tandak Loloan Bayan
22 August 2016
Sapuk dan Jong, Ikat Kepala Khas Bayang Lombok
24 August 2016

Sejarah Asal-Usul Suling Dewa Bayan, Kekayaan Tradisi Pulau Lombok

Suling Dewa Bayan

Sudah berapa banyak kesenian di Lombok yang sudah kamu ketahui bahkan sudah kamu tonton? Sudah mengenal kesenian Suling Dewa Bayan? Kalau belum mari berkenalan dengan Suling Dewa Bayan kesenian tradisional asli Lombok.

Kesenian Suling Dewa berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Suling dewa akan digelar ketika musim kemarau datang. Bisa ditebak, suling dewa digunakan untuk memohon turunnya hujan. Seperti yang sering kamu dengar, kekeringan dan musim kemarau sering terjadi di Pulau Lombok, sehingga ritual suling dewa selalu dilaksanakan ketika Pekan Apresiasi Budaya.

Kamu perlu tahu, Bayan merupakan pusat peradaban tertua di Pulau Lombok. Kamu dapat melihat berbagai budaya dan tradisi yang masih lekat dengan masyarakat Bayan. Masyarakat Bayan sangat peduli dan terus melestarikan seni tradisional lokal genius leluhur salah satunya adalah Suling Dewa.

Kesenian Suling Dewa memiliki sejarah yang panjang yang harus kamu ketahui. Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan dan menyiksa membuat tanaman dan hewan-hewan ternak mati. Tentu hal itu membuat kelaparan menyiksa masyarakat Bayan. Kemudian, ada suara-suara bijah dari langit yang memberikan petunjuk untuk menyelesaikan masalah tersebut. Suara-suara petunjuk itu didengar oleh seorang pemangku. Pemangku tersebut kemudian berkomunikasi dengan suara tersebut.

Dari komunikasi itulah, premangku adat diarahkan untuk kembali melakukan prosesi adat bernama mendewa. Prosesi ini dimaksud untuk mengakhiri musim kemarau yang menyiksa itu. Namun, pemangku adat kebingungan untuk mencari bahan-bahan untuk melakukan prosesi adat mendewa. Bahan-bahan itu antara lain sirih, pinang, lekoq buak (penginang). Padahal, seperti yang kamu tahu, saat itu musim kemarau dan semua tumbuhan mati.

Selanjutnya, wangsit mengyuruh pemangku membuat suling dari bambu. Suling sebagai alat hiburan ini ditiup oleh Jero Gamel sebagai awal memulai prosesi ini. Kemudian, dilanjutkan dengan memainkan komposisi atau gending bao daya yang memiliki arti mendung di langit.

Di prosesi pertama, langit tetap setia cerah, hujan tentu tidak turun. Namun, ajaibnya tiba-tiba terlihat awan gelap bergerak berarak-arak menyelimuti langit Bayan. Tepat pada malam Jumat, ketika prosesi kedua dari ritual ini dilakukan, hujan hampir menguyur Bayan. Namun tidak kunjung jatuh juga. Tetapi, masyarakat tidak patah semangat. Mereka tetap mengulang ritual ini berkali-kali. Sampai akhirnya hujan jatuh membasahi tanah Bayan yang gersang.

Itulah sekelumit tentang sejarah kesenian Suling Dewa asal Lombok.

By Zahratul Wahdati

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *